


ASAL USUL DESA ROWOBONI DIJULUKI SEBAGAI DESA 1001 MATA AIR
Desa Rowoboni berdiri sejak pertengahan abad XVI. Desa yang terletak di pesisir sebelah selatan Rawa Pening ini awal mulanya berasal dari kata Rowo dan Boni. Rowo mempunyai arti air dan Boni mempunyai arti Sumber, atau dengan kata lain Rowoboni berarti Sumber Air.
Sampai sekarang tak heran apabila di sekitar Desa Rowoboni di Dusun manapun terdapat sumber mata air. Salah satunya sebagai sumber yang terbesar di desa ini yaitu Sumber Air di Dusun Muncul, yang hingga saat ini terkenal dengan Pemandian Muncul, Sumber lainnya yang terkenal yaitu Air Hangat Sendang Mbang Anget dan Mata Air Kendil Wesi.
Dahulu kala Desa Rowoboni ini di perintah oleh Seorang Demang yang bernama Ki Demang Suryo Mangun Broto yang beliaunya memiliki empat orang Istri. Salah satu iatri yang paling di kenal oleh masyarakat pada waktu itu yaitu Nyi Ageng Pandan wangi.Ki Demang beserta istri istrinya pada waktu itu bertempat tinggal di Dukuh Rowoganjar. Selain Dukuh Rowoganjar, Desa Rowoboni Memiliki nama nama Dukuh yang lain yaitu Dukuh Rowokancing, Rowopotro, Rowokinjeng, Rowosuyud, Rowogono, dan Muncul.
Hingga pada suatu ketika rawa Pening mengalami luapan sekitar Tahun 1933 yang berdampak kepada pindahnya sebagian Dukuh yang terletak di pesisir Rawa Pening. Hingga sekarang Desa Rowoboni memiliki enam Dusun yaitu Dusun Muncul,Rowoganjar, Rowokasam, Candisari Candi Dukuh, Gondangsari dan Dusun Sentul.
Desa Rowoboni adalah salah satu dari sepuluh desa yang berada di wilayah Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Karena banyaknya Sumber Mata Air yang tersebar di semua Wilayah Desa Rowoboni, maka Desa Rowoboni dijuluki menjadi Desa 1001 Mata Air.
LABUH AGUNG SEDEKAH RAWAPENING DESA ROWOBONI TAHUN 2025
Tradisi Sedekah Rawapening atau yang dikenal dengan Larungan ini adalah merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Danau Rawapening, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun dan dilaksanakan setahun sekali yaitu menjelang purnomo sidi di bulan Muharam . Dengan kesadaran dan keyakinan masyarakat yang ada di sekitar Rawapening ,acara tersebut berjalan sesuai dengan tradisi dan kondisi masyarakat sekitar Rawapening.
Masyarakat berharap bahwa acara Larungan tersebut bisa menambah khasanah budaya dan diharapkan ke depan bisa menjadi salah satu aset pariwisata yang ada di Kabupaten Semarang, yang pada akhirnya akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat Desa Rowoboni dan masyarakat sekitar Rawapening lainnya.
Tradisi Sedekah Rawapening pada dasarnya melarung nasi tumpeng dan sesaji ketengah danau. Selain dimaksudkan sebagai tolak bala, dalam tradisi ini juga terkandung makna ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang diterima warga setempat yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Disertai pengharapan agar masyarakat sekitar Rawapening dijauhkan dari musibah dan bencana dan doa agar segala penghidupan dan pekerjaan mereka menjadi lebih baik. Selain itu juga untuk menghormati para leluhur mereka.
Prosesi pelaksanaan tradisi larung sesaji Rawapening diawali dengan berkumpulnya ratusan warga di area masuk Candi Dukuh Brawijaya Desa Rowoboni, Kecamatan Banyu Biru, kabupaten Semarang Jawa Tengah, di tempat ini disiapkan dua nasi tumpeng raksasa serta sejumlah sesaji yang akan dilarung ketengah danau Rawapening. dan untuk tahun ini prosesi larung di mulai arak arak dari Dusun Candi Dukuh menuju TPI Rowoboni.
Acara dimulai dengan kirab budaya dari Candi Dukuh menuju TPI Rowoboni yang diikuti oleh Kesenian Prajuritan Putra Nusantara Rowoboni, Pemerintah Desa Rowoboni, Berbagai paguyuban nelayan yaitu : Paguyuban Nelayan Putra Brawijaya,Paguyuban Karamba Margo Basuki,Paguyuban Nelayan Sido Makmur Candisari,Paguyuban Branjang Arang Brawijaya,Paguyuban Branjang Seduluran Saklawase, Paguyuban Sniper BFC BANYUBIRU FISH CLUB,Paguyuban Petani Enceng Gondhok, Warung Makan Rawabening.
Setelah rombongan kirab sampai di TPI, diterima oleh Sesepuh dilaksanakan penyerahan obor serta penerimaan diiringi oleh Seni Lesung Tresno Budoyo. Dilanjutkan dengan Doa Bersama dan potong tumpeng kecil. Selanjutnya, yaitu nyanyian Kidung tentang Rawapening disampung penyalaan 17 obor oleh pemangku wilayah dan ketua-ketua paguyuban.
Acara inti selanjutnya yaitu, prosesi Larung sesaji dari TPI Rowoboni menuju ke Tengah sumber rawapening. Setelah sampai di Tengah, dilaksanakan prosesi Doa Bersama sebelum tumpeng tersebut anntinya akan diperebutkan oleh warga.
Tradisi labuh agung Rawapening atau sedekah dan Larung sesaji Rawapening ini selalu menarik perhatian warga sekitar, dan ratusan pendatang. Ritual turun temurun ini merupakan wujud ungkapan syukur warga atas rejeki yang diterima oleh warga, terutama mereka yang menggantungkan hidup sebagai petani dan nelayan disekitar Rawapening.
Warga percaya dengan prosesi larung sesaji ini selama setahun kedepan mereka akan terhindar dari musibah dan bencana Sedangkan manfaat dari adanya ritual Larungan adalah untuk dapat mempererat persatuan dan kesatuan dan sadar akan kelestarian Rawapening sekaligus juga menjaga tradisi budaya Desa Rowoboni. Di samping itu juga akan memberikan ketenangan dan harapan bagi para nelayan dan petani serta masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya dari Rawapening.
Gebyar Malam Satu Suro Desa Rowoboni di Situs Candi Dukuh Brawijaya V
“Gebyar Malam Suro Desa Rowoboni ” mengacu pada perayaan malam 1 Suro (1 Muharram) dalam kalender Jawa, yang merupakan tahun baru Islam 1447 pada Hari Rabu 26 Juni 2025. Perayaan “Gebyar Malam Satu Suro” juga menjadi momen untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi muda. Bagi sebagian masyarakat, perayaan ini juga merupakan bentuk syukur atas hasil bumi dan rezeki yang diberikan. Gemah Rimah Loh Jinawi, Rahayu Rahayu Rahayu
BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL

MERTI DUSUN “TIRTA WENING” DUSUN DOPLANG
Tirta Wening, yang secara harfiah berarti “air bening” atau “air suci”, merupakan elemen sentral dalam upacara adat Merti Dusun di Desa Doplang, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Prosesi pengambilan air suci dari tujuh sumber mata air yang berbeda ini menjadi simbol penyucian, rasa syukur, dan harapan akan keberkahan bagi seluruh warga desa.
Tradisi Merti Dusun sendiri adalah sebuah ritual tahunan yang mengakar kuat dalam budaya agraris masyarakat Jawa. Upacara ini merupakan wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah, serta sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan permohonan keselamatan dan ketenteraman bagi desa.
Tirta Wening 7 Sumber Mata Air Desa Doplang Kecamatan Bawen
Makna dan Lokasi Tujuh Sumber Mata Air
Air dalam filosofi Jawa dianggap sebagai sumber kehidupan. Pengambilan Tirta Wening dari tujuh lokasi melambangkan harapan akan pertolongan dan kekuatan. Angka tujuh ( pitu dalam bahasa Jawa) sering dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan.
Air suci untuk prosesi Merti Dusun Doplang diambil dari tujuh dusun yang berada di wilayah desa tersebut. Ketujuh dusun yang menjadi lokasi sumber mata air adalah:
- Dusun Candi
- Dusun Getan
- Dusun Jatisari
- Dusun Krajan
- Dusun Pelemsari
- Dusun Jurangsari
- Dusun Klotok
Setiap mata air diyakini memiliki karakternya sendiri, dan penyatuan air dari ketujuh sumber ini melambangkan persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat Desa Doplang.
Rangkaian Prosesi Merti Dusun Doplang
Upacara Merti Dusun di Desa Doplang merupakan sebuah perhelatan budaya yang meriah dan sarat akan nilai-nilai luhur. Rangkaian acaranya biasanya terdiri dari beberapa tahapan utama:
1. Istighosah (Doa Bersama) Sebelum prosesi utama dimulai, warga desa akan berkumpul untuk menggelar doa bersama atau Istighosah. Kegiatan ini bertujuan untuk memohon kelancaran seluruh rangkaian acara dan sebagai wujud penyerahan diri kepada Sang Pencipta.
2. Pengambilan Tirta Wening Prosesi inti dimulai dengan pengambilan air dari tujuh sumber mata air. Tokoh adat dan perwakilan dari setiap dusun akan mendatangi masing-masing lokasi mata air untuk mengambil air dan menyimpannya dalam kendi-kendi tanah liat. Air yang telah terkumpul kemudian didoakan oleh para sesepuh adat.
3. Kirab Budaya dan Gunungan Puncak kemeriahan Merti Dusun ditandai dengan adanya Kirab Budaya. Dalam arak-arakan ini, Tirta Wening yang telah disatukan akan diarak keliling desa. Kirab ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan mengenakan pakaian adat Jawa.
Salah satu elemen paling ikonik dalam kirab adalah Gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan palawija yang disusun mengerucut menyerupai gunung. Gunungan ini merupakan simbol kemakmuran dan hasil panen yang melimpah. Filosofi gunungan juga melambangkan alam semesta dan isinya, sebagai representasi dari anugerah Tuhan.
4. Rayahan Gunungan (Pesta Rakyat) Setelah diarak, Gunungan akan didoakan dan kemudian diperebutkan oleh warga dalam tradisi yang disebut Rayahan Gunungan. Masyarakat percaya bahwa bagian dari gunungan yang berhasil mereka dapatkan akan membawa berkah dan keberuntungan. Momen ini selalu berlangsung meriah dan menjadi ajang kebersamaan warga.
5. Pagelaran Seni dan Budaya Sebagai penutup rangkaian acara, biasanya akan digelar berbagai pertunjukan seni tradisional. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk, pertunjukan rebana, dan tarian lokal menjadi hiburan bagi seluruh warga sekaligus sebagai upaya pelestarian kesenian daerah.
Secara keseluruhan, Tirta Wening dalam Merti Dusun Doplang bukan sekadar air biasa. Ia adalah simbol kesucian, persatuan, dan sumber kehidupan yang menjadi perekat tradisi dan gotong royong masyarakat dalam mensyukuri nikmat dan menjaga harmoni dengan alam.
Kirab Tirto Suci Jurang Wangi
Kirab Tirto Suci Jurang Wangi adalah sebuah prosesi adat dan budaya yang merupakan bagian penting dari upacara tradisi Merti Desa (juga dikenal sebagai Bersih Desa) yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Doplang. Secara harfiah, “Kirab Tirto Suci” berarti arak-arakan atau pawai membawa air suci.
Berikut adalah penjelasan rincinya:
1. Apa Itu Kirab Tirto Suci Jurang Wangi?
Kirab ini adalah sebuah ritual di mana warga desa mengambil air dari sumber mata air yang dianggap keramat atau suci, dalam hal ini kemungkinan besar adalah Sendang Jurang Wangi dan beberapa sumber mata air lainnya, untuk kemudian diarak keliling desa. Air suci (tirto suci) ini menjadi simbol sumber kehidupan, kesuburan, dan pembersihan diri serta lingkungan desa dari hal-hal negatif.
Prosesi ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan sebuah ritual yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, filosofis, dan sosial bagi masyarakat setempat.
2. Tujuan dan Makna Filosofis
Tujuan utama dari pelaksanaan Kirab Tirto Suci dan Merti Desa adalah:
- Wujud Rasa Syukur: Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan, terutama hasil panen yang melimpah, sumber air yang tidak pernah kering, serta kesehatan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
- Membersihkan Diri dan Desa (Ruwatan): Air suci dipercaya memiliki kekuatan untuk membersihkan desa secara spiritual (niskala) dari energi negatif, wabah penyakit, dan malapetaka. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dan ketenteraman.
- Melestarikan Warisan Leluhur: Tradisi ini merupakan cara masyarakat untuk menghormati dan melestarikan ajaran serta adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur (cikal bakal) desa.
- Mempererat Persatuan Warga: Seluruh rangkaian acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, melibatkan partisipasi aktif seluruh warga. Ini menjadi sarana untuk memperkuat gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas sosial.
3. Prosesi Acara
Meskipun detailnya bisa sedikit berbeda setiap tahunnya, prosesi Kirab Tirto Suci umumnya mengikuti alur sebagai berikut:
- Pengambilan Air Suci: Para sesepuh adat atau perwakilan desa akan mendatangi beberapa sumber mata air yang dianggap suci di wilayah Desa Doplang. Air diambil dan ditempatkan di dalam wadah khusus, biasanya berupa
kendi(kendi tanah liat). - Persiapan Kirab: Warga desa berkumpul di titik awal kirab dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka juga membawa berbagai macam sesaji dan hasil bumi yang dibentuk menjadi
gunungan(tumpukan hasil bumi yang berbentuk seperti gunung). - Pelaksanaan Kirab: Arak-arakan dimulai, dipimpin oleh para tokoh adat yang membawa kendi berisi air suci. Di belakangnya, barisan warga mengikuti sambil membawa gunungan, bendera, dan terkadang diiringi oleh alunan musik tradisional seperti gamelan. Rute kirab biasanya melewati jalan-jalan utama desa.
- Puncak Acara: Kirab akan berakhir di sebuah pusat kegiatan, seperti balai desa atau lapangan. Di sana, air suci akan didoakan bersama. Acara seringkali dilanjutkan dengan pertunjukan seni budaya seperti wayang kulit dan diakhiri dengan prosesi
rayahanataurebutan gunungan, di mana warga akan berebut mengambil hasil bumi dari gunungan karena dipercaya membawa berkah.
4. Waktu Pelaksanaan
Tradisi Merti Desa di Doplang, termasuk Kirab Tirto Suci, biasanya diadakan setahun sekali. Seringkali pelaksanaannya digabungkan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) pada bulan Agustus, sehingga acaranya menjadi semakin meriah dengan adanya berbagai kegiatan kebangsaan.
Secara keseluruhan, Kirab Tirto Suci Jurang Wangi adalah manifestasi dari kearifan lokal masyarakat Desa Doplang dalam menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya.
