DESA NOGOSAREN – KECAMATAN GETASAN
ASAL USUL DESA NOGOSAREN

Pada jaman kejayaan kerajaan Demak, mempunyai senopati perang yang bernama Ronggo Toh Joyo. Selain sebagai senopati, beliau juga bertugas menjaga pusaka kerajaan.

Dimalam yang tidak disangka sangka beliau memeriksa gudang senjata. Beliau terkejut melihat bahwa gudang senjata terbuka dan mendengar suara orang tertawa seraya mengejek sang senopati.

Beliau memeriksa satu persatu senjata keraton, ternyata dua senjata andalan kerajaan tersebut hilang yaitu keris Nogososro dan Sabuk Inten. Kemudian sang senopati mencoba mengikuti suara orang yang tertawa tetapi semakin dikejar suara tersebut semakin jauh. Dalam hatinya berjanji bahwa beliau tidak akan pulang tanpa dua pusaka tersebut. Dalam pencarian pusaka tersebut beliau menyamar seperti rakyat kebanyakan dengan nama samaran Mahesa Jenar. Dengan ciri khas memakai surjan berwarna hijau dengan ikat kepala dadung melati dan memakai sumping bunga melati. Untuk mempermudah pencarian pusaka tersebut gurunya Bengawan Ismoyo berkata pada malam bulan purnama bulan suro akan ada pertandingan bela diri yang biasanya diikuti oleh para jawara – jawara  yang akan berlangsung di Rawa Pening. Disitulah kamu akan menemukan petunjuk siapa yang sudah mencuri pusaka tersebut. Akhirnya Mahesa Jenar melaksanakan saran gurunya.

Pada saat para pendekar berkumpul terdengar suara yang pernah dia dengar saat ada di Gudang pusaka. Ternyata seorang pendekar dari aliran hitam yang bernama Lowo Ijo. Mahesa jenar mendekati Lowo ijo lalu adu kesaktian sampai dikaki gunung Telomoyo. Karena Lelah Mahesa Jenar beristirahat di sebuah goa.  Didalam goa terdapat sebuah sendang, yang akhirnya diberi nama Sendang Kemlongo.

Perjalananpun berlanjut menuju ke sebuah bukit untuk melihat bentangan Rawa Pening. Sampailah di bukit Argo Liman. Disana dia mendirikan tenda untuk memantau perjalanan Lowo ijo yang mencuri pusaka kerajaan.

Malam harinya sang senopati mendapat petunjuk dimana pusaka dapat ditemukan. Sang senopati bersemedi dan mandi dengan air suci dari 7 mata air Panguripan.  Pada saat mencucikan diri di sendang Kemlongo sang senopati melihat cahaya dari dasar air. Ternyata cahaya tersebut berasal dari sebuah keris yang berbentuk kepala naga, anehnya terendam dalam air tapi masih terdapat bercak darah kering. Maka dia bersumpah kalau daerah ini menjadi perkampungan akan diberi nama Nogosaren.

Ditangan sang senopati keris tersebut dibersihkan Kembali seperti baru tanpa noda. Semua prajurit yang mengikuti sang senopati tidak mau Kembali ke kerajaan. Mereka ingin mengabdikan diri, melaksanakan tugas sang senopati untuk mendirikan sebah perkampungan dengan nama NOGOSAREN.

SUSUK WANGAN – Merawat Petilasan Dewi Anjani dan Goa Wanoro (Goa Kera)

Kisah Sendang Blondo: Mata Air Suci di Jantung Sejarah Desa Nogosaren

Sendang Blondo bukanlah sekadar sumber mata air biasa. Bagi masyarakat Desa Nogosaren, tempat ini adalah titik di mana mitologi, sejarah, dan keyakinan spiritual bertemu, menjadikannya sebuah punden atau pusat Cikal Bakal desa yang sangat dihormati.

Berikut adalah hubungan dari semua elemen yang Anda sebutkan:

1. Lapisan Mitologi: Petilasan Dewi Anjani dan Gua Wanoro

Ini adalah lapisan cerita tertua yang menyelimuti Sendang Blondo, berasal dari zaman legenda dan pewayangan.

  • Petilasan Dewi Anjani: Dewi Anjani adalah tokoh sakti dalam dunia pewayangan, dikenal sebagai ibu dari Anoman (Hanuman), sang kera putih. Konon, dalam pengembaraannya, Dewi Anjani pernah singgah di tempat ini. Ia menggunakan kejernihan dan kesucian air Sendang Blondo untuk membersihkan diri atau melakukan ritual penyucian (bertapa). Sejak saat itulah, mata air ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan tuah untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif, baik secara fisik maupun batin.
  • Gua Wanoro: Keberadaan “Gua Wanoro” (Gua Kera) di dekat sendang secara logis menguatkan legenda ini. Para wanoro atau kera adalah pengikut setia Dewi Anjani dan Anoman. Gua tersebut dipercaya sebagai tempat peristirahatan atau markas para pengikut gaibnya, yang turut menjaga kesucian area petilasan tersebut.

2. Lapisan Sejarah dan Islam: Makam Mbah Kyai Sudonoyo

Ini adalah lapisan sejarah yang lebih “modern” dan menjadi jangkar historis bagi berdirinya Desa Nogosaren.

  • Cikal Bakal Desa: Mbah Kyai Sudonoyo diyakini sebagai tokoh pendiri atau cikal bakal yang membuka lahan dan mendirikan pemukiman pertama yang kini menjadi Desa Nogosaren. Sebagai seorang Kyai, beliau adalah pemimpin spiritual dan panutan masyarakat pada masanya.
  • Hubungan dengan Sendang Blondo: Penempatan makam seorang tokoh yang sangat dihormati seperti Mbah Kyai Sudonoyo di dekat Sendang Blondo bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah sebuah praktik umum dalam budaya Jawa, di mana pusat spiritual (makam leluhur) diletakkan di dekat pusat kekuatan alam (sumber air/punden). Hal ini memiliki beberapa makna:
    • Menyatukan Kekuatan: Menyatukan kekuatan spiritual dari leluhur (Mbah Sudonoyo) dengan kekuatan alam yang sudah ada (Sendang Blondo).
    • Menjaga Kesucian: Keberadaan makam seorang Kyai semakin mengukuhkan dan menjaga kesucian area sendang.
    • Legitimasi: Ini menunjukkan bahwa Mbah Sudonoyo juga mengakui dan menghormati kekuatan spiritual yang sudah ada di tempat tersebut sebelum kedatangannya.

3. Lapisan Kepercayaan dan Tradisi Masyarakat (Saat Ini)

Gabungan dari lapisan mitologi dan sejarah inilah yang membentuk kepercayaan dan tradisi yang hidup di masyarakat Nogosaren hingga hari ini.

  • Tempat Penyucian Diri: Kepercayaan bahwa air Sendang Blondo bisa menyucikan diri tetap kuat. Hingga kini, banyak warga yang datang ke sendang untuk “mandi” atau sekadar membasuh muka dengan niat membersihkan diri dari penyakit, kesialan, atau untuk mendapatkan berkah.
  • Ritual Desa: Air dari Sendang Blondo sering kali diambil dan digunakan dalam ritual-ritual desa yang penting, seperti upacara Merti Desa. Air ini dianggap sebagai air suci yang membawa berkah dan membersihkan desa dari segala marabahaya.

Kesimpulannya, Sendang Blondo adalah jantung spiritual Desa Nogosaren. Ia adalah warisan berlapis: lapisan pertama adalah mitos kuno tentang Dewi Anjani yang memberinya kekuatan penyucian. Lapisan kedua adalah sejarah Islam Jawa melalui Mbah Kyai Sudonoyo yang menjadikannya pusat leluhur desa. Kedua lapisan ini menyatu, menciptakan sebuah tempat yang sakral di mana warga bisa terhubung dengan alam, sejarah, dan keyakinan mereka secara bersamaan.

Scroll to Top