


MERTI DUSUN “TIRTA WENING” DUSUN DOPLANG
Tirta Wening, yang secara harfiah berarti “air bening” atau “air suci”, merupakan elemen sentral dalam upacara adat Merti Dusun di Desa Doplang, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Prosesi pengambilan air suci dari tujuh sumber mata air yang berbeda ini menjadi simbol penyucian, rasa syukur, dan harapan akan keberkahan bagi seluruh warga desa.
Tradisi Merti Dusun sendiri adalah sebuah ritual tahunan yang mengakar kuat dalam budaya agraris masyarakat Jawa. Upacara ini merupakan wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah, serta sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan permohonan keselamatan dan ketenteraman bagi desa.
Tirta Wening 7 Sumber Mata Air Desa Doplang Kecamatan Bawen
Makna dan Lokasi Tujuh Sumber Mata Air
Air dalam filosofi Jawa dianggap sebagai sumber kehidupan. Pengambilan Tirta Wening dari tujuh lokasi melambangkan harapan akan pertolongan dan kekuatan. Angka tujuh ( pitu dalam bahasa Jawa) sering dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan.
Air suci untuk prosesi Merti Dusun Doplang diambil dari tujuh dusun yang berada di wilayah desa tersebut. Ketujuh dusun yang menjadi lokasi sumber mata air adalah:
- Dusun Candi
- Dusun Getan
- Dusun Jatisari
- Dusun Krajan
- Dusun Pelemsari
- Dusun Jurangsari
- Dusun Klotok
Setiap mata air diyakini memiliki karakternya sendiri, dan penyatuan air dari ketujuh sumber ini melambangkan persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat Desa Doplang.
Rangkaian Prosesi Merti Dusun Doplang
Upacara Merti Dusun di Desa Doplang merupakan sebuah perhelatan budaya yang meriah dan sarat akan nilai-nilai luhur. Rangkaian acaranya biasanya terdiri dari beberapa tahapan utama:
1. Istighosah (Doa Bersama) Sebelum prosesi utama dimulai, warga desa akan berkumpul untuk menggelar doa bersama atau Istighosah. Kegiatan ini bertujuan untuk memohon kelancaran seluruh rangkaian acara dan sebagai wujud penyerahan diri kepada Sang Pencipta.
2. Pengambilan Tirta Wening Prosesi inti dimulai dengan pengambilan air dari tujuh sumber mata air. Tokoh adat dan perwakilan dari setiap dusun akan mendatangi masing-masing lokasi mata air untuk mengambil air dan menyimpannya dalam kendi-kendi tanah liat. Air yang telah terkumpul kemudian didoakan oleh para sesepuh adat.
3. Kirab Budaya dan Gunungan Puncak kemeriahan Merti Dusun ditandai dengan adanya Kirab Budaya. Dalam arak-arakan ini, Tirta Wening yang telah disatukan akan diarak keliling desa. Kirab ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan mengenakan pakaian adat Jawa.
Salah satu elemen paling ikonik dalam kirab adalah Gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan palawija yang disusun mengerucut menyerupai gunung. Gunungan ini merupakan simbol kemakmuran dan hasil panen yang melimpah. Filosofi gunungan juga melambangkan alam semesta dan isinya, sebagai representasi dari anugerah Tuhan.
4. Rayahan Gunungan (Pesta Rakyat) Setelah diarak, Gunungan akan didoakan dan kemudian diperebutkan oleh warga dalam tradisi yang disebut Rayahan Gunungan. Masyarakat percaya bahwa bagian dari gunungan yang berhasil mereka dapatkan akan membawa berkah dan keberuntungan. Momen ini selalu berlangsung meriah dan menjadi ajang kebersamaan warga.
5. Pagelaran Seni dan Budaya Sebagai penutup rangkaian acara, biasanya akan digelar berbagai pertunjukan seni tradisional. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk, pertunjukan rebana, dan tarian lokal menjadi hiburan bagi seluruh warga sekaligus sebagai upaya pelestarian kesenian daerah.
Secara keseluruhan, Tirta Wening dalam Merti Dusun Doplang bukan sekadar air biasa. Ia adalah simbol kesucian, persatuan, dan sumber kehidupan yang menjadi perekat tradisi dan gotong royong masyarakat dalam mensyukuri nikmat dan menjaga harmoni dengan alam.
Kirab Tirto Suci Jurang Wangi
Kirab Tirto Suci Jurang Wangi adalah sebuah prosesi adat dan budaya yang merupakan bagian penting dari upacara tradisi Merti Desa (juga dikenal sebagai Bersih Desa) yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Doplang. Secara harfiah, “Kirab Tirto Suci” berarti arak-arakan atau pawai membawa air suci.
Berikut adalah penjelasan rincinya:
1. Apa Itu Kirab Tirto Suci Jurang Wangi?
Kirab ini adalah sebuah ritual di mana warga desa mengambil air dari sumber mata air yang dianggap keramat atau suci, dalam hal ini kemungkinan besar adalah Sendang Jurang Wangi dan beberapa sumber mata air lainnya, untuk kemudian diarak keliling desa. Air suci (tirto suci) ini menjadi simbol sumber kehidupan, kesuburan, dan pembersihan diri serta lingkungan desa dari hal-hal negatif.
Prosesi ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan sebuah ritual yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, filosofis, dan sosial bagi masyarakat setempat.
2. Tujuan dan Makna Filosofis
Tujuan utama dari pelaksanaan Kirab Tirto Suci dan Merti Desa adalah:
- Wujud Rasa Syukur: Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan, terutama hasil panen yang melimpah, sumber air yang tidak pernah kering, serta kesehatan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
- Membersihkan Diri dan Desa (Ruwatan): Air suci dipercaya memiliki kekuatan untuk membersihkan desa secara spiritual (niskala) dari energi negatif, wabah penyakit, dan malapetaka. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dan ketenteraman.
- Melestarikan Warisan Leluhur: Tradisi ini merupakan cara masyarakat untuk menghormati dan melestarikan ajaran serta adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur (cikal bakal) desa.
- Mempererat Persatuan Warga: Seluruh rangkaian acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, melibatkan partisipasi aktif seluruh warga. Ini menjadi sarana untuk memperkuat gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas sosial.
3. Prosesi Acara
Meskipun detailnya bisa sedikit berbeda setiap tahunnya, prosesi Kirab Tirto Suci umumnya mengikuti alur sebagai berikut:
- Pengambilan Air Suci: Para sesepuh adat atau perwakilan desa akan mendatangi beberapa sumber mata air yang dianggap suci di wilayah Desa Doplang. Air diambil dan ditempatkan di dalam wadah khusus, biasanya berupa
kendi(kendi tanah liat). - Persiapan Kirab: Warga desa berkumpul di titik awal kirab dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka juga membawa berbagai macam sesaji dan hasil bumi yang dibentuk menjadi
gunungan(tumpukan hasil bumi yang berbentuk seperti gunung). - Pelaksanaan Kirab: Arak-arakan dimulai, dipimpin oleh para tokoh adat yang membawa kendi berisi air suci. Di belakangnya, barisan warga mengikuti sambil membawa gunungan, bendera, dan terkadang diiringi oleh alunan musik tradisional seperti gamelan. Rute kirab biasanya melewati jalan-jalan utama desa.
- Puncak Acara: Kirab akan berakhir di sebuah pusat kegiatan, seperti balai desa atau lapangan. Di sana, air suci akan didoakan bersama. Acara seringkali dilanjutkan dengan pertunjukan seni budaya seperti wayang kulit dan diakhiri dengan prosesi
rayahanataurebutan gunungan, di mana warga akan berebut mengambil hasil bumi dari gunungan karena dipercaya membawa berkah.
4. Waktu Pelaksanaan
Tradisi Merti Desa di Doplang, termasuk Kirab Tirto Suci, biasanya diadakan setahun sekali. Seringkali pelaksanaannya digabungkan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) pada bulan Agustus, sehingga acaranya menjadi semakin meriah dengan adanya berbagai kegiatan kebangsaan.
Secara keseluruhan, Kirab Tirto Suci Jurang Wangi adalah manifestasi dari kearifan lokal masyarakat Desa Doplang dalam menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya.
